acc-05

Setiap orang pasti ingin kaya, namun tidak semua orang tahu caranya dan  bisa menemukan jalannya. Banyak orang rajin bekerja keras namun terkadang hasil yang didapat tidak seberapa, sementara ada orang yang bekerja seperti main-main namun hasilnya luar biasa. Kata yang dapat menjadi hiburan umumnya tertuju pada  “nasib”. Apa benar hasil yang diperoleh merupakan nasib?

Orang melakukan sesuatu didasari oleh pikiran bahwa apa yang dilakukan memiliki tujuan terbaik, menyenangkan atau menentramkan hati, menguntungkan, atau karena adanya rasa ketakutan bagi dirinya. Tindakan yang dilakukan dan berlangsung terus menerus akan menjadi kebiasaan, dan alam bawah sadar secara otomatis memunculkan pengembangan tujuan yang telah ada dalam pikiran. Perilaku dan kebiasaan inilah yang melekat menjadi nasib, misalnya seseorang awalnya mencoba menanam padi, diulang terus menerus dengan berbagai kendala dihadapi, maka seseorang ini nasibnya menjadi petani.

Waktu kita masih duduk dibangku SD, guru bertanya,”Apa cita-citamu anak-anak?” Sebagian ada menjawab, ingin jadi dokter, Polisi, Insinyur dan lain sebagainya. Bagaimana cita-cita ini dapat diraih, tentunya dengan usaha dan melakukan sesuatu menuju cita-cita tersebut. Bisakah menjadi dokter tanpa usaha untuk masuk pendidikan kedokteran? Bertanyaan berikutnya bagaimana caranya dan bagaimana agar bisa lulus dan berhasil? Meski telah lulus pendidikan kedokteranpun belum tentu bernasib menjadi dokter kalau tidak pernah mengobati pasien. Orang yang memiliki pendidikan kedokteran dan dalam aktivitasnya selalu mengobati pasien, maka disebutlah seorang dokter.

Menjadi kaya awalnya harus dipikirkan bagaimana caranya, jalan mana yang bisa (harus) dilakukan, dan bagaimana. Sebagaian orang berpikir nasib dilalui dengan mengalir begitu saja seperti air yang mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut dengan gelombang pasang-surut. Berpikir seperti ini boleh saja dan sah-sah saja, namun akan menempatkan diri sebagai orang pasif yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga kondisi lingkunganlah yang akan menentukan nasibnya.

Ada cara berpikir yang cukup mudah bila ingin menjadi kaya dan dapat dijadikan sebagai  kebiasaan, ukurannya sangat jelas namun banyak orang yang belum menyadarinya. Cara berpikir dengan membiasakan membayar pajak merupakan salah satu indikator, yang cukup mudah dan jelas langkahnya. Pasalnya, kewajiban membayar pajak karena adanya penghasilan atau harta.

Penulis pernah melakukan survey pada saat menjadi nara sumber dalam sebuah diskusi di salah satu universitas terkemuka di Manado. Pertanyaan yang diajukan adalah : berapa pajak yang ingin anda bayarkan? Pilihan jawaban yang diberikan : a. sekecil-kecilnya,  b. sebanyak-banyaknya, c. sedang-sedang saja. Survey dilakukan sebelum acara diskusi terhadapap 654 responden mahasiswa jurusan, ekonomi, ilmu computer dan teologi. Hasil survey sudah dapat diprediksi, yaitu jawaban a : 76%, b:, 8% c: 16%.

Membaca hasil survey tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi masyarkat saat ini. Cara berfikir ingin kaya, namun ingin membayar pajak sekecil-kecilnya merupakan cara berfikir yang tidak logis, meski berfikir seperti ini terjadi secara umum. Logika berfikirnya mungkin dengan biaya sekecil-kecilnya dengan hasil yang sebanyak-banyaknya, tentu ini hanya berlaku pada dunia judi.

Ukuran Kaya dari Pajak yang Dibayar

Mengapa pertanyaan yang diajukan, berapa pajak yang ingin anda bayarkan? Di dunia (negara) manapun orang tidak akan bisa lari dari pajak, karenanya pajak harus disikapi dengan bijak. Orang yang tidak punya penghasilan atau harta tidak perlu membayar pajak. Semakin besar pajak yang dibayar maka semakin besar penghasilanya atau hartanya. Kekayaan seseorang dapat diukur dari besarnya pajak yang dibayar.

Menjadi kaya  dengan hati tentram merupakan idaman banyak orang dan caranya mudah, yakni memberi sesuai haknya. Kalau ingin kaya-raya konsekuensinya pajak yang harus dibayar sebesar-besarnya. Apakah masih ada keinginan membayar pajak sekecil-kecilnya?

Sumber : Hartono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Comments are closed.