Cara Menghitung, Menjurnal Pajak Tangguhan (Bag. II)

Posted: February 10, 2015 in Akuntansi dan Keuangan, Akuntansi dan Perpajakan
Tags: , , , , ,

tangguhan 02

Jenis-Jenis Pajak Tangguhan dan Penyebabnya
Seperti sudah disampaikan diatas: definisi menurut saya (tidak usah dijadikan referensi), sederhananya, pajak tangguhan adalah pengakuan pajak yang ditangguhkan.

Mengapa ditangguhkan?

Ada 2 faktor penyebab yang mengakibatkan timbulnya pengakuan pajak tangguhan, yaitu:

Penyebab-1.

Karena adanya pengakuan “Laba Kena Pajak” (laba fiskal) yang UNTUK SEMENTARA lebih kecil dibandingkan “Laba Sebelum Pajak” (laba komersial) di masa kini—sudah pasti akan mengakibatkan timbulnya “Utang Pajak penghasilan” di masa depan. Selisih inilah yang diakui sebagai “Kewajiban Pajak Tangguhan” (Deferred Tax Liability—biasa disingkat dengan “DTL”.)

Contoh Kasus Pengakuan Kewajiban Pajak Tangguhan:
Melanjutkan contoh kasus pertama di atas. Perbedaan metode pengakuan pendapatan PT. JAK antara laporan fiskal dan komersial menyebabkan terjadinya perbedaan pengakuan pendapatan, di 2012. Perbandingan laporan fiskal dan komersial PT. JAK untuk 2012 dan 2013 akan nampak sebagai berikut:

Dari perbandingan laporan fiskal dan komersial di atas jelas terlihat bahwa, perbedaan pengakuan pendapatan di 2012 mengakibatkan terjadinya perbedaan laba kena pajak sebesar Rp 50,000,000. Perbedaan laba fiskal dan komersial tersebut akan mengakibatkan peningkatan Utang PPh di 2013 nanti sebesar:

Tarif efektif PPh x Selisih Laba Kena Pajak = 30% x 50,000,000 = Rp 15,000,000.
Peningkatan Utang PPh inilah yang diakui sebagai “Kewajiban Pajak Tangguhan” (Deferred Tax Liability) di tahun 2012. Bagaimana caranya JAK menjurnal pengakuan kewajiban pajak tangguhan?
Mungkin anda sudah tahu bahwa pengakuan jurnal pengakuan Biaya dan Utang PPh biasanya, sbb:

[Debit]. Biaya PPh Badan = Rp 15,000,000
[Kredit]. Utang PPh Badan = Rp 15,000,000

Tetapi karena laporan fiskal mengakui utang PPh nihil—dan sebagai gantinya PT. JAK mengakui adanya kewajiban pajak tangguhan, maka jurnalnya menjadi sbb:

[Debit]. Biaya PPh Badan = Rp 15,000,000
[Kredit]. Utang PPh Badan = 0
[Kredit]. Kewajiban Pajak Tangguhan = Rp 15,000,000
(Catatan: Untuk mengakui kewajiban pajak tangguhan)

Dengan dimasukannya jurnal ini, maka di Laporan Laba-Rugi komersial PT JAK akan menunjukan biaya PPh sebesar Rp 15,000,000 di satu sisinya, dan di Neraca akan menunjukan Utang PPh = 0 dan Kewajiban Pajak Tangguhan sebesar Rp 15,000,000, di sisi lainnya.

Saat proyek rampung di tahun 2013 nanti, jurnal yang dimasukan oleh PT. JAK di penutupan buku adalah sebagai berikut:

[Debit]. Biaya PPh Badan = Rp 15,000,000 (pengkuan biaya untuk 2013 saja)
[Debit]. Kewajiban Pajak Tangguhan = Rp 15,000,000
[Kredit]. Utang PPh Badan = Rp 30,000,000

(Catatan: Untuk mengakui Utang PPh Badan sebesar 15,000,000 untuk 2013 saja, sekaligus memulihkan Utang PPh yang ditangguhkan di 2012 sebesar Rp 15,000,000, sehingga total utang PPh menjadi Rp 30,000,000).
Penyebab yang pertama sudah. Selanjutnya kita lihat penyebab yang kedua.. Lanjut…

Penyebab-2.

Karena adanya pengakuan laba fiskal yang UNTUK SEMENTARA lebih besar dibandingkan laba komersial di masa kini—yang nantinya bisa menjadi faktor pengurang “Utang PPh” di masa depan. Selisih inilah yang diakui sebagai “Aset Pajak Tangguhan” (Deferred Tax Asset—biasa disingkat dengan “DTA”)

Contoh Kasus Pengakuan Aset Pajak Tangguhan:
Melanjutkan contoh kasus kedua yang sebelumnya (silahkan dilihat kembali). Perbedaan saat pengakuan “utang point belanja yang belum dibayar” dalam neraca fiskal dan neraca komersial PT. JAK mengakibatkan perbedaan pengakuan harga pokok penjualan (HPP) handuk (sebagai penukar point) dalam laporan laba-ruginya.

Perbedaan saat pengakuan HPP ini menyebabkan laba pajak yang LEBIH BESAR Rp 25,000,000 jika dibandingkan dengan laporan komersial di 2012. Selisih Rp 25,000,000 ini akan bisa dipulihkan di 2013—saat pelanggan mengklaim point belanja. Jika tarif efektif PPh di 2013 nanti 30%, maka PT. JAK dapat mengakui adanya “Aset Pajak Tangguhan” (deferred tax asset) sebesar:
Tarif efektif PPh x Selisih Laba Kena Pajak = 30% x 25,000,000 = 7,500,000

Pengakuan aset pajak tangguhan dijurnal dengan cara sbb:

[Debit]. Aset Pajak Tangguhan = 7,500,000
[Kredit]. Utang Pajak Penghasilan = 7,500,000

Setelah jurnal ini dimasukan, maka Utang PPh PT JAK di 2012 akan bertambah sebesar Rp 7,500,000—sehingga utang yang diakui di laporan komersial menjadi sama dengan laporan fiskal, dan sebagai pengimbang disajikan “Aset Pajak Tangguhan” sebesar Rp 7,500,000 yang nantinya akan dijadikan faktor pengurang Utang PPh di tahun 2013.

Anggap total klaim point belanja yang ditukarkan oleh pelanggan, di 2013, memang mencapai Rp 25,000,000 seperti yang di perkirakan, dan ada laba fiskal sebesar Rp 20,000,000 di periode 2013, maka aset pajak tangguhan yang diakui di 2012 dihapuskan (istilahnya “dipulihkan”) dengan mengkreditkannya(melawankannya) dengan Utang PPh 2013. Jurnalnya adalah sbb:

[Debit]. Biaya PPh = 20,000,000
[Kredit]. Aset Pajak Tangguhan = 7,500,000
[Kredit]. Utang PPh = 12,500,000
(Catatan: Utang PPh = Utang PPh 2013 – Aset Pajak Tangguhan 2012 = 20,000,000 – 7,500,000 = Rp 12,500,000.). Kita Lanjut ke bag III…..

Comments are closed.