tangguhan 03

Jika saya rangkum semua, maka bisa disimpulkan bahwa:

  1. Pajak tangguhan adalah pajak yang ditangguhkan, sebagai antisipasi terhadap konsekwensi utang pajak penghasilan, baik yang timbul di masa kini maupun masa depan.
  2. Salah satu penyebab terjadinya pajak tangguhan adalah adanya perbedaan sementara antara laba fiskal dengan laba komersial, yang pada ujungnya menimbulkan perbedaan antara “Utang PPh” dalam laporan fiskal dengan laporan komersial.
  3. Jika laba pajak lebih besar dibandingkan dengan laba komersial, maka selisih tersebut diakui sebagai “Aset Pajak Tangguhan” (Deferred Tax Asset), sebesar selisih tersebut dikalikan tarif efektif PPh, yang nantinya bisa dikreditkan (dijadikan pengurang) di tahun fiskal berikutnya.
  4. Jika laba pajak lebih kecil dibandingkan dengan laba komersial, maka selisih tersebut diakui sebagai “Kewajiban Pajak Tangguhan” (Deferred Tax Liability), sebesar selisih tersebut dikalikan tarif efektif PPh, yang nantinya dihapuskan ketika bisa dipulihkan di masa depan.

Ada beberapa catatan penting yang ingin saya sampaikan, antara lain:

[-]. Kasus yang sering saya temui adalah adanya pajak tangguhan (baik berupa aset maupun kewajiban) yang menumpuk. Itu artinya keputusan untuk menagguhkan, kemungkinan besar diambil dengan pertimbangan dan alasan yang tidak cukup kuat, sehingga pajak tangguhannya tidak pernah mengalami pemulihan. Ada 2 kemungkinan penyebab:

  • Pengakuan kewajiban pajak tangguhan telah dilakukan, akan tetapitemporary differenceyang dijadikan dasar pertimbangan ternyata tidak memiliki potensi pemulihan yang cukup—alias tidak pernah bisa menghapus—dimasa depannya.
  • Pengakuan aset pajak tangguhan telah dilakukan, akan tetapi temporary differenceyang dijadikan dasar pertimbangan ternyata tidak boleh dikurangkan (tidak setujui oleh otoritas pajak) sehingga, tidak pernah bisa dikreditkan.

Agar ini tidak terjadi, pajak tangguhan sebaiknya hanya diakui jika potensi pemulihan hampir bisa dipastikan (most probably) akan terjadi di masa depan. Jika tidak terlalu yakin sebaiknya jangan mengakui pajak tangguhan.

[-]. Aset pajak tangguhan tidak selalu berasal dari “temporary difference”—dimana laba fiskal lebih besar dibandingkan dengan laba komersial. Sesuai dengan PSAK 46, asset pajak tangguhan juga bisa terjadi akibat adanya:

  • Akumulasi rugi pajak belum dikompensasi, yang biasa disebut dengan istilah “Loss Carry Forward” (LCF); dan
  • Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan (jika peraturan perpajakan mengizinkan.)

Demikian halnya dengan kewajiban pajak tangguhan, juga tidak selalu berasal dari “temporary differenece”—dimana laba fiskal lebih kecil dibandingkan laba komersial. Masih ada beberapa kemungkinan penyebab selain “temporary difference”.

Lagipula, pada prakteknya ragam penyebab temporary difference juga sangat banyak—yang tentunya perlu penghitungan dan pernjurnalan yang berbeda. Tetapi untuk sementara, seperti sudah saya sampaikan, di tulisan ini saya hanya membahas konsep dasarnya. Anggaplah ini pengenalan awal.

Di posting-posting berikutnya, saya akan bahas berbagai kemungkinan temporary difference yang bisa timbul antara laba pajak dengan laba komersial—beserta tips cara menentukan apakah suatu temporary difference akan menimbulkan deferred tax asset atau deferred tax liability. Juga kemungkinan proses pemulihan dan penghapusan yang melewati beberapa tahun fiskal, dengan variasi tarif efektif pajak yang berbeda antara satu tahun denga tahun lainnya. Tentunya dengan contoh kasus dan penjurnalannya.

Untuk sementara, silahkan pahami konsep dasarnya terlebih dahulu, asah pola pikir anda agar setiap timbul Utang PPh, pikiran anda otomatis merespon dengan pertanyaan: (a) apakah ada temporary difference; (b) apakah temporary differencenya memiliki potensi pemulihan yang tinggi di masa depan; (c) apakah perlu mengakui pajak tangguhan; (d) jika iya, jurnal seperti apa yang diperlukan; (e) bagaimana nanti proses penghapusannya; (f) dan seterusnya. Itu dulu yang penting.

Untuk variasi dan kompleksitas kasus pajak tangguhan (aset pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan), bisa dikembangkan pelan-pelan.

Dan seperti biasa, JAK selalu ada untuk itu. JAK juga masih suka dan perlu belajar lebih banyak lagi. Dan akan sangat menyenangkan jika kemampuan teknis dan manajerial akuntansi, keuangan dan pajak kita terus berkembang. Untuk sementara, semoga sukses dalam karir dan kehidupan lainnya.

Comments are closed.